Fashion

http://lcf.soaindo.com/new_lp?utm_campaign=103003&utm_source=gg&game=16&utm_term=pgzs336280&gclid=CLqByO2hhdICFc-GaAodK-INKg

Breaking News

Beauty

Featured

Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin

Travel

Featured Posts

Minggu, 11 Juni 2017

Kucing Hutan

- Tidak ada komentar

Kualamanggrove.com

Seekor Kucing Hutan Korban sasaran tembak dari Pemburu Liar dikawasan Pedalaman Aceh jaya Provinsi Aceh


Minggu, 04 Juni 2017

Asian Tri Colors hewan yang sudah jarang di temukan

- Tidak ada komentar
Dokumented By Yusri





Minggu, 02 April 2017

Prinsip dan Pengertian K3

- Tidak ada komentar
Kualamanggrove.com

Pengertian Umum Dan Tujuan Keselamatan Kerja. Penerapan Keselamatan Kerja pada suatu kegiatan merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh pelaku Kegiatan Guna melindungi keamanan Para Pekerja.

Pengertian Keselamatan Kerja Yang dikutip dari beberapa sumber adalah :
  1. Keselamatan kerja adalah sarana utama untuk pencegahan kecelakaan, cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja. Keselamatan kerja yang baik adalah pintu gerbang bagi keamanan tenaga kerja Keselamatan kerja menyangkut segenap proses produksi dan distribusi, baik barang maupun jasa (Suma’mur, 1996).
  2. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaannya.
  3. Keselamatan Kerja Adalah Segala upaya untuk mengurangi Kemungkinan Terjadinya kecelakaan saat melakukan pekerjaan.
  4. Keselamatan Kerja adalah Tindakan aktif setiap orang untuk menjaga keselamatan dirinya dari hal-hal yang tidak diiginkan.
  5. Keselamatan kerja adalah system perlindungan diri terhadap segala kemungkinan yang dapat menyebabkan kecelakaan
  6. Keselamatan Kerja adalah tindakan preventif terhadap kecelakaan yang dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab diri saat bekerja
 Adapun tujuan dari keselamatan kerja adalah :
  1. Melindungi keselamatan pekerja dalam melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produktifitas nasional.
  2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada ditempat kerja.
  3. Sumber produksi terpelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.
Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 Pasal 3 :
  1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja
  2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan bahaya kebakaran
  3. Mencegah dan mengurangi bahaya-bahaya peledakan
Menurut Undang-Undang No. 25 Tahun 1997 tentang perlindungan atas keselamatan karyawan dijamin pada pasal 108 yaitu:
  1. Keselamatan dan kesehatan kerja
  2. Moral dan kesusilaan
  3. Pelaksanaan yang sesuai dengan harkat dan martabat sebagai manusia serta nilai-nilai agama.
.Artikel Pada Blog ini kami kutip dari berbagai sumber. Semoga Artikel Tentang Pengertian Umum Dan Tujuan Keselamatan Kerja Dapat Bermanfaat Dan Apabila artikel ini berguna untuk anda silahkan copy paste dengan menyertakan Sumbernya. Kami Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada Kesalahan Dan Kekurangan Pada penulisan Artikel ini. Terima kasih atas perhatiannya. 

Pengertian K3 Serta Tujuannya. Filosofi dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau disingkat K3 adalah melindungi keselamatan dan kesehatan para pekerja dalam menjalankan pekerjaannya, melalui upaya-upaya pengendalian semua bentuk potensi bahaya yang ada di lingkungan tempat kerjanya. Bila semua potensi bahaya telah dikendalikan dan memenuhi batas standar aman, maka akan memberikan kontribusi terciptanya kondisi lingkungan kerja yang aman, sehat, dan proses produksi menjadi lancar, yang pada akhirnya akan dapat menekan risiko kerugian dan berdampak terhadap peningkatan produktivitas.


Definisi K3

K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) “Occupational Health and Safety”, disingkat OHS. K3 adalah kondisi yang harus diwujudkan di tempat kerja dengan segala daya upaya berdasarkan ilmu pengetahuan dan pemikiran mendalam guna melindungi tenaga kerja, manusia serta karya dan budayanya melalui penerapan teknologi pencegahan kecelakaan yang dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan peraturan perundangan dan standar yang berlaku.

Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah bidang yang terkait dengan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah institusi maupun lokasi proyek.

Secara keilmuan, keselamatan dan kesehatan kerja diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam upaya mencegah kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran, penyakit, dan sebagainya.
  1. Keselamatan (safety), Keselamatan kerja diartikan sebagai upaya-upaya yang ditujukan untuk melindungi pekerja; menjaga keselamatan orang lain; melindungi peralatan, tempat kerja dan bahan produksi; menjaga kelestarian lingkungan hidup dan melancarkan proses produksi.
  2. Kesehatan (health), Kesehatan diartikan sebagai derajat/tingkat keadaan fisik dan psikologi individu (the degree of physiological and psychological well being of the individual). Secara umum, pengertian dari kesehatan adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk memperoleh kesehatan yang setinggi-tingginya dengan cara mencegah dan memberantas penyakit yang diidap oleh pekerja, mencegah kelelahan kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat.

Tujuan Penerapan K3

Tujuan utama dalam Penerapan K3 berdasarkan Undang- Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yaitu antara lain :
  1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja.
  2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
  3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas nasional
Dikutip dari berbagai sumber
Artikel Pada Blog ini kami kutip dari berbagai sumber. Semoga Artikel Tentang Pengertian K3 Serta Tujuannya Dapat Bermanfaat Dan Apabila artikel ini berguna untuk anda silahkan copy paste dengan menyertakan Sumbernya. Kami Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada Kesalahan Dan Kekurangan Pada penulisan Artikel ini. Terima kasih atas perhatiannya. 

Kondisi Ruas Jalan Penghubung Peureulak Lukop

- Tidak ada komentar
Kualamanggrove.com



Anggota DPRA asal daerah pemilihan Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, SHI, meninjau ruas jalan provinsi yang menghubungkan Peureulak-Lokop sampai tembus hingga ke Gayo Lues yang terancam putus dan tidak bisa dilewati jika tidak segera ditangani di kawasan Seuneubok Baro, Kecamatan Ranto Peureulak.
Iskandar juga meminta Pemerintah Aceh untuk respon cepat dengan membangun tebing/bronjong penahan tanah agar badan jalan tidak terkikis. Dalam tinjauannya pria asal Peureulak yang juga Ketua Banleg DPRA menemukan, ruas badan Peureulak-Lokop rusak parah, meski setiap tahun dianggarkan biaya pengaspalan.
Ia juga meminta Pemerintah Aceh jika tidak sanggup mengurus, merawat lintas penghubung itu, untuk segera bisa mengusulkan peningkatan status jalan dari provinsi menjadi status jalan nasional

Bencana Longsor Jawa Timur

- Tidak ada komentar
Kualamanggrove.com



Sumber   TEMPO.Co
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengirimkan dua ekskavator milik UPT Bina Marga di Madiun dan sebuah ekskavator berukuran besar dari persewaan untuk menangani bencana longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, 1 April 2017. Insiden itu terjadi pukul 06.00 WIB.
Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim, Benny Sampirwanto mengatakan Kepala BPBD Jatim Sudarmawan dan Kepala Dinas Sosial Pemprov Jatim, Sukesi menuju lokasi.
Benny menjelaskan, berdasarkan pernyataan Kadinsos Jatim, jumlah korban yang telah ditemukan 17 korban meninggal. "Semoga korban lain lebih cepat ditemukan setelah ekskavator datang," ujarnya, dalam siaran pers, Sabtu 1 April 2017.
Baca: Longsor di Ponorogo, Ratusan Warga Diungsikan ke Zona Lebih Aman
Berdasarkan data sementara, 17 korban meninggal  dari Desa Banaran antara lain: Jadi (warga RT 2/RW 3 Tangkil), Pujianto (RT 2/RW 1), Maryono (RT 2/RW 1), Siyam (RT 2/RW 1), Situn (RT 2/RW 1), Tolu (RT 2/RW 1), Katemun (RT 2/RW 1), Menit (RT 2/RW 1), Aldan (RT 3/RW 1), Janti (RT 3/RW 1), Pita (RT 3/RW 1), Nadi (RT 3/RW 1), Hengki (RT 3/RW 1), Iwan (RT 3/RW 1), Iwan (RT 3/RW 1), Katemi (RT 3/RW 1), Suyono (RT 1/RW 3), dan Muklas asal Krajan.

Pengiriman ekskavator, Benny berujar, membutuhkan waktu karena akses menuju lokasi yang sempit. Untuk jarak sekitar 3 km menuju lokasi membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Selain itu, masyarakat berduyun-duyun menonton longsor sehingga jalan macet. Untuk alasan yang terakhir, menurutnya, telah dikondisikan oleh aparat agar saat ekskavator datang akses menjadi lancar.

Baca: Longsor Ponorogo, Lokasi Bencana Berada di Zona Kerentanan Tinggi
Adapun Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Sumani, menjelaskan kejadian longsor tersebut. Sebelum tertimbun, menurut dia, puluhan warga itu sedang memanen jahe di lahan wilayah lereng perbukitan. Sebagian dari mereka tidak bisa menyelamatkan diri karena kondisi tanah labil setelah diguyur hujan sejak Jumat sore, 31 Maret 2017.

Berdasarkan informasi dari Whatsapp grup kebencanaan, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan tim reaksi cepat BNPB tengah melakukan perjalanan menuju lokasi bencana yang sulit jaringan komunikasi.

Baca: Longsor Ponorogo, Evakuasi 27 Warga Tertimbun Terhambat Hujan  
Sebelum bencana itu terjadi, tanda-tanda tanah longsor sudah muncul beberapa waktu lalu. Pihak BPBD Ponorogo telah memperingatkan warga tentang bahaya tanah longsor. Untuk menjaga keselamatan, warga mengungsi ketika malam hari. Namun, saat warga kembali ke rumah pada pagi hari untuk melakukan aktivitas, longsor pun terjadi.

Asal usul orang Aceh ini sempat dinyatakan punah, namun ternyata mereka masih ada.

- Tidak ada komentar
Kualamanggrove.com

Melacak Jejak Suku Mante, by Hendri F. Isnaeni


Sesosok manusia tertangkap kamera pengendara motor trail yang sedang menjelajah hutan di Aceh. Mereka mengejar orang kerdil yang berlari cepat itu. Rekaman yang diunggah ke laman youtube kemudian viral dan mendapat pemberitaan luas.
Ahli antropologi yang dikutip media massa menduga orang itu adalah suku Mante yang hidup di hutan. Suku kuno ini sempat dinyatakan punah, namun rekaman itu membuktikan mereka masih ada. Selain Mante, mereka juga disebut dengan beberapa nama: Mantir, Mantra, Manteu, dan Bante.
Buku Ensiklopedi Aceh: Adat, Bahasa, Geografi, Kesenian, Sejarah, menyebut bahwa di kalangan peneliti sejarah dan antropologi, asal-usul bangsa Aceh adalah dari suku Mantir (Manteu, bahasa Aceh) yang hidup di rimba raya Aceh. Suku ini mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Mante ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bagian dari bangsa Khmer dari Hindia Belakang.
Menurut Zainuddin dalam Tarich Atjeh dan Nusantara, bangsa Aceh termasuk ke dalam lingkungan rumpun bangsa Melayu, yaitu bangsa-bangsa Mante (Bante), Lanun, Sakai Djakun, Semang (orang laut), Senui dan lain-lain yang berasal dari negeri Perak dan Pahang menurut etnologi, ada hubungannya dengan bangsa Phonesia dan Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga.
“Menurut Zainuddin etnis Aceh mempunyai kesamaan dengan etnis Melayu lainnya yang ada di Malaysia yaitu dari Perak dan Pahang. Etnis tersebut diduga berasal dari Babylonia dan India,” tulis Abdul Rani Usman, kepala pusat penelitian dan penerbitan UIN Ar-Raniry Aceh, dalam Sejarah Peradaban Aceh.
Menurut Usman, para imigran datang ke Aceh pada ribuan tahun sebelum masehi. Kehadiran mereka dalam dua gelombang. Periode pertama merupakan suku Melayu lama, mereka hidup di daerah pesisir Aceh. Kedatangan suku Melayu baru membuat mereka masuk dan menetap di pedalaman. Suku Melayu lama enggan menerima pembauran sehingga mereka menetap di dataran tinggi.
“Imigran yang lebih dulu berimigrasi disebut etnis Gayo di Aceh Tengah dan suku Mante di Aceh Besar,” tulis Usman.
Sampai sekarang belum ada penelitian yang khusus dan mendalam mengenai suku Mante. Keberadaan suku itu berdasarkan cerita masyarakat Aceh yang pernah melihatnya. Hal itu diakui oleh Christiaan Snouck Hurgronje, penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk masalah pribumi dan Arab/Islam, yang menyelidiki masyarakat Aceh agar dapat ditaklukkan dalam Perang Aceh.
Dalam bukunya, Aceh: Rakyat dan Adat Istiadatnya, Volume 2, Snouck mencatat bahwa “menurut kabar, orang Mante ini tanpa busana dan tubuh mereka berambut tebal; dikabarkan bahwa mereka mendiami pegunungan di Mukim XXII; akan tetapi, semua informasi kita hanya berasal dari cerita.”
Snouck mendapatkan cerita dari penduduk Aceh yang mengisahkan bahwa “di masa kakek mereka sepasang suami-istri orang Mante tertangkap dan dihadapkan kepada Sultan Aceh. Akan tetapi, meskipun dengan segala upaya, penghuni hutan itu menolak untuk berbicara atau makan, dan akhirnya mati kelaparan.”
Sebagai suku primitif yang tinggal di dalam hutan, orang Mante pernah dijadikan label untuk merendahkan orang lain. Menurut Snouck, dalam tulisan tentang Aceh dan dalam percakapan sehari-hari, orang yang tolol dan serba canggung disamakan dengan orang Mante. Di daerah dataran rendah, perkataan ini juga dipakai untuk memberi julukan kepada penduduk dataran tinggi, yang dianggap mereka kurang beradab dan dalam arti yang sama juga diterapkan pada penduduk pantai barat yang berdarah campuran.
Bahkan, menurut Snouck, Mante (orang hutan) juga disebut sebagai “sekelompok orang yang sering diceritakan sebagai makhluk jahat dalam dongengan Aceh.”
Kendati demikian, dalam masyarakat Aceh pernah terdapat penggolongan rakyat kedalam soeke (suku) atau kawon (kaum) berdasarkan keturunan dari nenek moyang pihak laki-laki dan adat istiadatnya.
Pada masa itu, ada empat kawon antara lain Kawon Ja Sandang yaitu orang Hindu yang bekerja untuk majikan masing-masing; Kawon Imeum peut (kaum imam empat) yaitu orang Hindu yang telah memeluk agama Islam; dan Kawon Tok Batu terdiri dari orang-orang asing, seperti Arab, Parsi, Turki, Keling, dan Tionghoa. Sedangkan orang Mante dan Batak masuk dalam Kawon Lherentoih (suku tiga ratus).

GAME SERU 2017

- Tidak ada komentar